Senin, 26 November 2012

Selipkan Lagu Daerah Nusantara, Kenapa Tidak?


Saat ini cukup banyak kemunculan album baru yang dirilis dari sejumlah artis musik kita baik itu yang pendatang baru maupun yang sudah cukup lama bercokol di blantika musik Indonesia yang sengaja lagu unggulan atau gacoan mengandalkan mendaur ulang lagu-lagu pop(ular) yang pernah ngetop. Kenapa kecenderungan atau trend mendaur ulang ini juga diberlakukan pada lagu-lagu tradisi / daerah Nusantara dalam balutan aransemen musik masa kini.
Dan perbincangan seputar penyertaan atau menyelipkan lagu daerah Nusantara di Forum Apresiasi Musik Indonesia (Formasi) ini mendapat respon positif. Sebagaimana kalau kita mengikuti diskusi musik yang dilontarkan oleh Ote Abadi "Saran 2011" di Formasi, yang banyak mendapat komentar/tanggapan positif ini responnya mengkristal pada satu inti kenapa tidak dicoba di mana disetiap album baru baik itu artis penyanyi atau grup band untuk menyertakan (kalau perlu sebagai sebuah kewajiban, menyelipkan) “Satu Lagu Daerah Nusantara” di album tersebut.
Kami kira apa yang dilontarkan oleh Ote Abadi ini adalah suatu gagasan bernas yang layak untuk diapresiasi oleh musisi kita. Di tengah semakin banyaknya mengangkat kembali lagu daur ulang, sudah selayaknya kesadaran semacam ini harus dibangkitkan dan ditumbuhkan pula khususnya dalam jiwa penyanyi dan musisi muda kita.
Kala itu banyak artis penyanyi jadul kita tak segan-segan menyelipkan lagu daerah dalam rekaman album musik popnya, seperti; Dondong Opo Salak (Pattie bersaudara), Anging Mamiri (Lilis Suryani), Sansaro (Bing Slamet), Inang (Emillia Contessa), dan masih banyak lagi yang lainnya. Atau bagaimana seorang maestro Elfa Secioria bikin album Indonesian With Love. Di mana kesadaran itu timbul karena rasa bangga dengan karya-karya lagu tradisionil/daerah Nusantara. Apalagi sekarang lagi musim lagu daur ulang, kenapa tidak lagu daerah didaur ulang dengan sentuhan musik era kini. Ambil contoh bahwa popularitas lagu Garuda di Dadaku (Netral) tidak lepas dari notasi nada lagu daerah asal Papua, Apuse, yang memang sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia.
Sebagaimana komentar Baim Gondrong, marilah, kesadaran ini kita bangkitkan dan ditumbuhkan pada musisi muda kita. Disamping tujuannya untuk memperkenalkan dan memasyarakatkan kembali lagu-lagu daerah. Bagaimanapun juga lagul-lagu daerah Nusantara ini adalah kekayaan, warisan dan harta karun karya budaya seni musik Nusantara yang harus tetap diapresiasi, dilestarikan dan dijaga sebagai kekayaan dan kebanggaan warisan budaya bangsa Indonesia. Sangat disayangkan kalau sampai hilang ditelan zaman.
Menurut musisi jadul Johny Rodith, tahun 70-an ada suatu trend musik di kalangan anak-anak sekolah SMP/SMU dan remaja yang disebut 'folk song' berupa festival vocal group yang 99,9% membawakan lagu2 daerah. Kalau menyimak kecenderungan materi musik pop masa kini perlu adanya imbangan-imbangan dibangkitkan dan ditumbuhkannya musik-musik macam folk song atau festival vocal group. Johny Rodith juga mencontohkan, pada tahun 1970-an lahir nama-nama seperti Pahama, Bourest atau Country Jack yang mana mereka ini adalah kelompok musik vocal grup mampu berkiprah di pentas musik nasional.
Eri Anugerah menambahkan bahwa lagu-lagu daerah memang perlu diperkenalkan lagi, terutama untuk anak-anak agar mereka bisa lebih banyak mengenal lagi dan menyanyikannya di saat minimnya rekaman lagu anak-anak. Langkah ini dianggap sebagai salah satu alternatif memperkenalkan kembali lagu-lagu daerah Nusantara, ketimbang mereka harus mendengarkan lagu orang dewasa yang syairnya sebenarnya tidak cocok untuk seusia mereka. Departemen Pendidikan dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata seharusnya mempunyai tanggungjawab untuk ini, tegasnya. Langkah penyertaan lagu-lagu daerah di album rekaman musik pop ini pula yang disebut Memet Budiarto sebagai Kebangkitan Bangsa. Karena munurut Memet, musik (lagu) daerah ini bukan cuma kekayaan budaya bangsa tapi juga menjadi bagian dari world music yang harus mendunia. Apalagi saat ini sudah banyak musisi kaliber dunia melirik dan mengeksplorisasi musik etnik dalam karya musik mereka.
Begitu kaya negeri kita Nusantara ini dengan budaya musik dan lagu-lagu daerahnya yang indah, seperti; Apuse (Papua), Bubuy Bulan (Jawa Barat), Ayam Den Lapeh (Sumatera Barat), Barek Solok (Sumatera Barat), Butet (Sumatera Utara), Burung Tantina (Maluku), Cing Cangkeling (Jawa Barat), Es Lilin (Jawa Barat), Gambang Suling (Jawa Tengah), Gundul Pacul (Jawa Tengah), Ilir-Ilir (Jawa Tengah), Jali-Jali (Jakarta), Kambanglah Bungo (Sumatera Barat), Kampuang Nan Jauh Di Mato (Sumatera Barat), Injit-Injit Semut (Jambi), Selendang Mayang (Jambi), Kicir-Kicir (Jakarta), Manuk Dadali (Jawa Barat), O Ina Ni Keke (Sulawesi Utara), Sinanggar Tulo (Sumatera Utara), Sing Sing So (Sumatera Utara), Si Patokaan (Sulawesi Utara), Soleram (Riau), Potong Bebek Angsa (Nusa Tenggara Timur), Rasa Sayang Sayange (Maluku), Sarinande (Maluku), Surilang (Jakarta), Suwe Ora Jamu (Jogyakarta), Tanase (Maluku), Tokecang (Jawa Barat). Terang Bulan (Jakarta), Yamko Rambe Yamko (Papua), dan masih banyak lagi.
Untuk mengembalikan rasa bangga akan kekayaan budaya musik daerah sebagai warisan dan harta karun bangsa, sudah selayaknya spirit ini diapresiasi oleh penyanyi dan musisi muda kita. Yaitu dengan mempopularkan kembali lagu-lagu daerah Nusantara, antara lain dengan menyertakan setidaknya satu lagu daerah Nusantara di dalam album rekaman. Smoga! (alex palit)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar